Dipecat-Disomasi Gegara Kritik Bupati dan Sekda Lampung Utara, Asisten III Minta Maaf

Bagikan ke:

Infolampung.co, Lampung Utara – Asisten III Bidang Administrasi Umum Setkab Lampung Utara, Efrizal Arsyad, mengkritik kinerja bupati dan sekretaris daerah (Sekda) setempat yang sering tidak masuk ke kantor.

Akibat kritikannya itu, Efrizal dipecat dari jabatannya dan disomasi.

Setelah menerima Surat Keputusan (SK) Bupati tentang pemberhentian jabatan, Efrizal mengungkapkan permintaan maaf kepada Bupati Lampung Utara Budi Utomo dan Sekda Kabupaten, Lekok.

“Saya menyampaikan permintaan maaf yang sedalam-dalamnya kepada sekretaris daerah dan bupati atas perkataan saya. Semua itu saya akui kekhilafan saya, dan saya sampaikan secara spontanitas,” ujarnya, Kamis (29/4/2021) malam, dilansir Sindonews, Jumat (30/4/2021).

Menurut Efrizal, dia telah menerima konsekuensi dari apa yang telah diucapkannya beberapa hari lalu.

Baca juga:  Viral! Asisten III Pemkab Lampung Utara Dipecat-Disomasi Gegara Kritik Bupati dan Sekda

“Saya terima dengan ikhlas dinonjobkan. Semoga pak bupati dan sekda dapat menerima permintaan maaf saya,” harapnya.

Disinggung tentang pernyataannya yang menyebut adanya jual beli jabatan di pemerintahan yang dipimpin Budi Utomo, Efrizal mengatakan jika pernyataan itu merupakan spontanitas.

Dia kembali mengakui jika hal itu adalah kekhilafannya dalam berucap.

”Itulah kekhilafan saya, dan yang saya katakan itu (jual beli jabatan) saya akui tidak benar,” tegas Efrizal.

Sering tidak masuk kantor

Sebelumnya diberitakan, Efrizal Arsyad dicopot dari jabatannya sebagai Asisten Bidang Administrasi Setkab Lampura dan disomasi setelah mengkritik bupati dan sekda setempat yang kerap tidak masuk kantor.

Dia menuding jika Sekda Lampura, Lekok, kerap tidak masuk kantor untuk menghidari sejumlah persoalan yang kini dihadapi Pemkab Lampura.

Baca juga:  Viral! Asisten III Pemkab Lampung Utara Dipecat-Disomasi Gegara Kritik Bupati dan Sekda

“Sekda jarang ngantor. Sementara dia kan motor penggerak. Jangan jadi pejabat kalau penakut,” ujarnya, beberapa hari lalu.

Diakuinya, memang tidak ada aturan yang melarang kedua atasannya bekerja di rumah. Namun itu sepatutnya tidak dilakukan setiap hari.

“Banyak pejabat tidak sanggup ngomong (mengkritik), karena takut hilang jabatan. Sebab jabatannya dapat beli,” kata Efrizal.

“Selama 36 tahun jadi PNS di sini (Pemkab Lampura), pemerintahan saat ini yang paling buruk,” tambahnya. (*)

FOTO: Efrizal Arsyad (Istimewa)


Bagikan ke:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Modus Baru, Pakai Drone, Narkoba Hendak Diselundupkan ke Dalam Lapas di Lampung

Sab Mei 1 , 2021
Bagikan […]